Awalnya aku merasa ragu sekali mengikuti kegiatan ini, sudah ada ragu, maka semangat untuk meneruskan sudah hampir tidak ada. Tapi aku tetap meneruskan langkahku, walau setengah hati kujalani. Allah pasti sudah mengaturnya untukku. Membuatku seperti ini dan seperti itu. Hidup adalah pilihan dan kita yang membuat pilihan itu menjadi takdir kita dalam hidup.
Aku mendapatkan pelajaran berharga tentang dakwah, semangat yang diselipkan dalam jiwa akan tujuan kita hidup di dunia, kita yang menginginkan surga, kita yang menginginkan Islam kembali berjaya (Ah, apakah aku terlalu idealis?) kita yang mendapatkan ‘kembali’ saudara satu misi, visi dan tujuan hidup. Allah terima kasih, nikmatmu sungguh manis kureguk, dan pengorbananku untuk itu barulah sedikit. Baru sekedar baju basah dan kotor, baru sekedar muka terbakar sinar matahari, baru sekedar bermandikan lumpur, ah itu belum apa-apa sobat, baru nol koma sekian persen dari jihad ang sebenarnya. Apakah kita mengeluh, ya beberapa di antara kita mengeluh.
Jangankan untuk berdakwah, dari keluhan itu apakah kita sudah sanggup menghadapi para missionaris? Itu pengorbanan yang bisa dibilang belum berarti apa-apa, tapi itu semua merupakan awal dari ghirah dakwah dan jihad itu muncul.
Ya, Rasul pun menyebut ‘ummati ummati dan ummati’ ketika ajal menjemputnya. Duhai idola semua dari semua idola, shalawat serta salam tak hentinya dikumandangkan oleh banyak muslim di dunia kepadamu. Tolong syafa’ati kami, yang baru mencoba mencicipi manisnya jihad dan dakwah di jalan kekasihmu, Allah SWT.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment