Monday, June 29, 2009

Lelaki yang kukenal

Jelas terlihat wajah nan berseri
Dua sudut bibir tertarik ke atas melukiskan suasana hati
dan tak pernah hilang dari bibir sang lelaki
Jagad raya telah menjadi teman baik selama sehari
Pipinya bersemu merah ketika kucoba mengetahui
Hingga tak perlu waktu lama mencari

Ah, ternyata cinta sedang menggelayut manja
Menyapa sudut jiwa
Seorang gadis berkacamata telah demikian membuatnya
Membuat seorang lelaki yang kukenal terus bahagia
Dan tak pernah lelah berpuisi indah
Berusaha mengucapkan cinta lewat kata
Berusaha agar ungkapan cinta tersampaikan sempurna
Bersambut ....

Apa daya....
lelaki yang kukenal kini dirundung kesedihan yang sangat
tak cukup menghiburnya lewat kata semangat
aku tak bisa berbuat
sang gadis pergi tanpa pamit, tanpa sebab....

Ah, seorang lelaki yang kukenal
Nyala lampu dihatinya seolah redup dan padam
Senyum dihatinya tak lagi kulihat semalam
Sebuah tanda tanya sedang menguasai ruh temaram
Akan kepergian seorang gadis pujaan

Catatan hati seorang anak manusia

Membuat duniamu sendiri, waktu kau ingin sendiri
Tak perlu ada teman yang baik hati menemani bersama kesedihanmu
Tanpa kata, bayangan, suara jangkrik bahkan desau angin sekalipun
Hanya kau ruh dan jiwamu
Ingatlah sobat :
Allah tidak akan mengubah suatu kaum
sampai kaum tersebut berusaha mengubahnya sendiri

Tak ada hasil yang manis yang patut direguk
tanpa dilalui dengan sebuah kerja keras yang sepadan
jangan pernah merasa lelah atau putus asa
karena nanti akan merasa bersalah pada diri sendiri
kaupun tahu, Allah tidak akan suka itu

Adalah hati yang merasakan
Berproses dari mata yang melihat, menatap dan memandang
Telinga yang
Otak yang berfikir,
Kemudian memberi perintah untuk memberi tahu apa artinya
Lalu mengirimkan sinyal kepada hati :
Tugas manusia sebagai khalifah di dunia

Tugas matahari

Sesaat ku berjalan diluar rumah, tiba-tiba mentari telah membuatku terkejut dan sinarnya menusukku tanpa sebab, ah bukan aku saja. Semua orang di dunia ini merasakan perlakuan yang sama darinya. Kemudian aku bertanya padanya.
“Kenapa kau lakukan itu wahai matahari? Sinarmu sungguh menyengat. Bukankah Allah telah memerintahkanmu untuk melaksanakan tugasmu dengan baik?”
“Ya, benar. Itu memang tugasku”
“Tugas apa? Tugasmu adalah menyinari bumi, memberi manfaat dengan sinarmu, ultra violetmu yang dapat membantu tanaman untuk bertumbuh, membantu berbagai kegiatan seluruh penghuni bumi, bukan justru memberikan sengatan sinarmu yang membuat manusia mengeluh kepanasan,”
“Tugasku adalah membuat manusia sadar, untuk kembali berfikir dan mengevaluasi diri bahwa sengatan dari panasnya sinarku bukan apa-apa jika dibandingkan dengan panasnya neraka di akhirat.”
Aku terdiam dan tertunduk dibuatnya. Temanku sungguh benar. Selama ini aku terlena oleh kesenangan duniawi sehingga aku meremehkan sang kehidupan abadi : akhirat. Detik ini aku disadarkan, hidup di dunia adalah lahan tabungan untuk kehidupan yang kekal.
“Maafkan aku sobat telah menghina dan meremehkan tugasmu, terima kasih atas peringatanmu.”
Matahari pun tertutup awan putih. Mungkin akan menjalankan tugasnya untuk menyapa temannya yang lain di muka bumi.

Pujangga hebat

Seseorang telah mengganti hariku menjadi seorang pujangga hebat, tiada hari tanpa kata dan tulisan indah. Tiap detik tangan ini terus bekerja. Wahai pujangga bolehkah aku sekedar meminjam gelarmu sehari saja? Walau aku tak tahu kepada pujangga yang mana aku bertanya.
Hahaha... biarlah, toh hari ini aku akan menjadi pujangga. Aku tidak tahu hari ini akan terus kuingat sepanjang masa atau hanya sebagai pelengkap hidup saja dan hilang ditelan waktu. Memori dalam fikiran pun mungkin akan lenyap tak membekas. Tak ada tanda-tanda bahwa orang akan mengingatku bahkan aku sendiri. Patutkah seorang pujangga disebut gila ?

Tundukkanlah udara di dunia dengan kata-katamu!
Kalahkan semua badai dengan tutur lembutmu!
Bertemanlah dengan seluruh tanaman dengan manisnya ucapanmu!
Kuasailah seluruh jenis hewan dengan jemarimu yang menuliskannya!
Berilah senyuman termanismu pada sang malam yang menyapamu dengan rembulan dan bintangnya!
Sambutlah sang mentari dengan semangat baru!

Teriakkan namamu sekencang-kencangnya.
Keluarkan emosimu seolah kau di laut lepas.
Hahaha...
Lalu tanya pada dirimu, ada apa dengan dirimu?

Tak pernah lelah mata ini menatap, tak pernah capai hati ini merasakan, tak pernah lesu ruh ini bergelora, bersemangat, walau raga telah rapuh dimakan usia. Oh, wahai semesta...!! Dengarlah pintaku, aku hanya ingin sendiri.

come with poet

sebelumnya setelah sekian lama berhibernasi,
aku kembali dengan puisi dan kalimat panjang pendek lainnya
setelah posting ini akan dapat dilihat poet yang aku buat, just enjoy it!!!!

Monday, June 22, 2009

batuk berkepanjangan

alangkah nikmatnya sehat yang Allah berikan,
dan semua terasa sangat nikmat ketika diberi cobaaan berupa sakit

walau sudah minum obat tapi jalannya salah
tetap saja akan berlanjut sakitnya
kalau mengkonsumsi makanan yang tidak diperbolehkan,...

ah, nikmat sehat dari Allah sungguh berharga