Sesaat ku berjalan diluar rumah, tiba-tiba mentari telah membuatku terkejut dan sinarnya menusukku tanpa sebab, ah bukan aku saja. Semua orang di dunia ini merasakan perlakuan yang sama darinya. Kemudian aku bertanya padanya.
“Kenapa kau lakukan itu wahai matahari? Sinarmu sungguh menyengat. Bukankah Allah telah memerintahkanmu untuk melaksanakan tugasmu dengan baik?”
“Ya, benar. Itu memang tugasku”
“Tugas apa? Tugasmu adalah menyinari bumi, memberi manfaat dengan sinarmu, ultra violetmu yang dapat membantu tanaman untuk bertumbuh, membantu berbagai kegiatan seluruh penghuni bumi, bukan justru memberikan sengatan sinarmu yang membuat manusia mengeluh kepanasan,”
“Tugasku adalah membuat manusia sadar, untuk kembali berfikir dan mengevaluasi diri bahwa sengatan dari panasnya sinarku bukan apa-apa jika dibandingkan dengan panasnya neraka di akhirat.”
Aku terdiam dan tertunduk dibuatnya. Temanku sungguh benar. Selama ini aku terlena oleh kesenangan duniawi sehingga aku meremehkan sang kehidupan abadi : akhirat. Detik ini aku disadarkan, hidup di dunia adalah lahan tabungan untuk kehidupan yang kekal.
“Maafkan aku sobat telah menghina dan meremehkan tugasmu, terima kasih atas peringatanmu.”
Matahari pun tertutup awan putih. Mungkin akan menjalankan tugasnya untuk menyapa temannya yang lain di muka bumi.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment